MILANISTI INDONESIA

Berita

Juventus VS AC Milan: Menang atau Turun Gunung!

Pertandingan Juventus vs AC Milan pada 6 Oktober 2025 (dini hari WIB) bukan sekadar laga Serie A biasa. Laga ini mempertemukan dua raksasa Italia dengan cerita dibaliknya: Massimiliano Allegri kembali ke Turin sebagai pelatih AC Milan, menghadapi klub yang pernah ia bawa meraih lima Scudetto. Juventus di era baru Igor Tudor akan menjamu AC Milan yang tengah memuncaki klasemen. Duel di Allianz Stadium ini menjanjikan adu taktik kelas tinggi dengan bumbu emosional dan sejarah panjang rivalitas kedua tim.

Juventus: Unbeaten tapi Tersendat

Juventus mengawali musim 2025/26 dengan cukup solid. Dalam lima laga Serie A terakhir, Bianconeri tak terkalahkan (tiga kemenangan beruntun diikuti dua hasil imbang). Konsistensi mulai diuji di pekan-pekan berikutnya: Juve ditahan imbang Hellas Verona 1-1 dan Atalanta 1-1 secara beruntun. Hasil seri beruntun itu membuat Juventus sementara tertahan di peringkat 4, satu poin di belakang Milan. Meski demikian, Juventus masih menjaga rekor tak terkalahkan di liga musim ini.

Skuad asuhan Igor Tudor juga harus bergulat dengan sejumlah kendala cedera. Juan Cabal, bek kiri anyar, diperkirakan absen setelah mengalami cedera di laga Champions League tengah pekan (imbang 2-2 vs Villarreal). Di lini belakang, Gleison Bremer diragukan tampil akibat masalah kebugaran. Gelandang Khephren Thuram, yang tampil apik di awal musim, juga absen dalam lawatan ke Villarreal dan kondisinya meragukan untuk akhir pekan. Kabar baiknya, Tudor bisa menurunkan kekuatan terbaiknya, penyerang utama Dušan Vlahović siap memimpin lini depan, didukung pemain sayap eksplosif seperti Federico Chiesa dan Conceicao.

Sebagai catatan, Juventus juga telah menjalani partai Eropa di tengah pekan. Hasil imbang 2-2 di markas Villarreal memberi pengalaman berharga, tapi juga menyisakan kelelahan dan potensi rotasi pemain. Tudor harus cermat mengelola stamina skuadnya jelang laga berat melawan Milan.

AC Milan: Spesialis Memberi Kekalahan Pertama Lawan?

AC Milan datang dengan kepercayaan diri tinggi. Rossoneri sempat tersentak kalah 1-2 dari tim promosi Cremonese di laga pembuka, namun mereka merespons melebihi prediksi pundit. Pasukan Allegri mencatat empat kemenangan beruntun setelah itu di Serie A. Pertahanan semakin disiplin dan lini tengah lebih seimbang. Rangkaian kemenangan itu termasuk kemenangan masif 2-1 atas juara bertahan Napoli pekan lalu, meski Milan harus bermain dengan 10 orang selama lebih dari 30 menit. Dalam periode empat laga kemenangan beruntun tersebut, Milan hanya kebobolan satu gol (penalti untuk Napoli), menunjukkan soliditas lini belakang yang baru.

Secara klasemen, Milan kini memimpin puncak Serie A dengan keunggulan tipis. Mereka mengoleksi poin sama dengan Napoli dan AS Roma, tetapi unggul selisih gol, dan berada satu poin di atas Juventus. Berbeda dengan Juve, Milan tidak terbebani kompetisi Eropa musim ini, sebuah keuntungan yang memungkinkan Allegri menjaga kebugaran pemain inti setiap pekan.

Dari segi kebugaran tim, Milan relatif lebih segar namun tetap memiliki kendala. Bek andalan Fikayo Tomori diragukan setelah dilaporkan mengalami cedera pangkal paha saat kemenangan atas Napoli dan diragukan tampil pada laga di Turin. Selain itu, bek kiri Pervis Estupiñán dipastikan absen akibat skorsing kartu merah yang ia terima pekan lalu. Absennya dua pilar pertahanan ini memaksa Allegri melakukan penyesuaian di lini belakang. Kemungkinan bek muda Koni De Winter akan menggantikan peran Tomori di jantung pertahanan jika waktu pemulihannya tidak cukup, sementara posisi bek kiri bisa diisi pemain Bartesaghi.

Di lini depan, Christian Pulisic tengah on-fire dan menjadi pemain kunci Milan. Winger asal Amerika Serikat itu sudah mencetak 6 gol dan 2 assist dalam 7 pertandingan kompetitif musim ini, termasuk berperan besar dalam kemenangan atas Napoli (1 gol 1 assist). Selain itu, Luka Modrić, Rabbiot, dan Youssouf Fofana tetap akan menjadi andalan di lini tengah. Kiper Mike Maignan pun berada dalam performa prima, siap menjadi tembok terakhir menghadang gempuran Juventus.

Rekor Historis Juventus vs Milan di Serie A

Pertemuan Juventus dan AC Milan selalu menjadi grande partita dengan sejarah lebih dari satu abad. Rivalitas kedua klub ini adalah yang tertua dan terbanyak dimainkan di Italia, pertama kali digelar pada tahun 1901. Sepanjang sejarah, mereka telah bersua 244 kali di ajang resmi, dengan Juventus sedikit unggul dalam hal kemenangan (94 kali) dibanding Milan. Ini mencerminkan dominasi Juventus di era-era tertentu, meski duel kedua tim kerap berlangsung ketat.

Di ajang Serie A sendiri, persaingan sangat sengit. Kedua tim rutin saling mengalahkan bergantian seiring dekade berlalu. Musim lalu, misalnya, Juventus dan Milan berbagi hasil relatif berimbang. Pada pertemuan November 2024 di San Siro, laga berakhir imbang tanpa gol. Sementara di Turin pada Januari 2025, Juventus sukses menang 2-0 atas Milan. Menariknya, Milan asuhan pelatih sebelumnya (Sergio Conceição) justru mampu menyingkirkan Juve di semifinal Supercoppa Italiana awal 2025 dengan skor 2-1. Artinya, dalam beberapa pertemuan terakhir, tidak ada dominasi absolut: kedua tim saling mengimbangi dengan kemenangan, hasil seri, dan saling mengalahkan di berbagai ajang.

Secara tradisi, Juventus memang lebih sering keluar sebagai pemenang terutama di Turin. Namun, AC Milan juga kerap tampil garang saat bertemu Juve, terlebih di laga-laga besar penentuan. Derby Juventus-Milan selalu menghadirkan atmosfer panas baik di dalam lapangan maupun di tribun penonton, menjadikannya salah satu laga klasik yang ditunggu tifosi setiap musim.

Analisis Taktik Kedua Pelatih

1. Taktik Igor Tudor (Juventus)
Memasuki era Igor Tudor, Juventus mengalami sedikit pergeseran pendekatan bermain dibanding era Allegri sebelumnya. Tudor, mantan bek Juventus, membawa filosofi yang lebih agresif dan dinamis. Dalam beberapa laga awal, Juve kerap tampil menekan dan mendominasi penguasaan bola, seperti saat mereka mengurung Atalanta meski akhirnya hanya imbang. Tudor cenderung fleksibel dalam formasi, ia pernah dikenal menerapkan 3-4-2-1 di klub sebelumnya, namun di Juventus musim ini ia tampak sering memakai empat bek sejajar. Indikasinya terlihat dengan hadirnya Pierre Kalulu (bek kanan baru permanen dari Milan) dan Juan Cabal sebagai duet full-back sebelum Cabal cedera. Pola 4-3-3 atau 4-2-3-1 nampak dalam permainan Juve, dengan satu striker tunggal didukung gelombang pemain tengah yang ikut membantu serangan.

Ciri khas taktik Tudor yang mulai tampak adalah pressing intens di lini tengah dan transisi cepat ke depan. Juventus sering menggempur lawan sejak awal, mencoba mencetak gol cepat. Saat melawan Atalanta, misalnya, Juve menciptakan banyak peluang di awal laga (Kalulu sampai mengenai tiang di menit kedua). Trio gelandang seperti Manuel Locatelli, Weston McKennie, dan Khephren Thuram (jika fit) bertugas memenangi duel di tengah sekaligus menyuplai bola ke depan. Tudor juga dikenal tak ragu memberi kepercayaan pada pemain muda berbakat. Terbukti, gelandang serang 18 tahun Kenan Yildiz sudah diberi peran penting – ia memimpin daftar assist Serie A sementara dengan 3 assist , menjadi kreator serangan di beberapa pertandingan. Pola serangan Juve mengandalkan lebar lapangan lewat sayap. Yildiz dan kadang pemain seperti Cambiasso atau Francisco Conceição bergerak di sisi untuk memberi umpan kepada striker.

Di lini depan, Tudor memiliki “kemewahan” dua penyerang tengah (Vlahović, dan Jonathan David). Ia kerap merotasi atau memasang salah satu sesuai kebutuhan laga. Vlahović biasanya menjadi pilihan utama berkat kemampuan duel fisik dan penyelesaian akhir, sementara Jonathan David (rekrutan anyar) memberikan opsi kecepatan dan pergerakan tanpa bola. Menariknya, Tudor sejauh ini lebih sering memasang satu striker didukung gelandang serang ketimbang duet klasik – hal ini menunjukkan pendekatan yang midfield-centric, memaksimalkan gelandang untuk menguasai laga.

Secara pertahanan, absennya Bremer bisa menjadi kendala karena Bremer adalah pilar dengan kepemimpinan dan kekuatan duel udara. Jika Bremer tak fit, duet Federico Gatti dan Lloyd Kelly kemungkinan mengawal pertahanan. Keduanya punya postur di atas 1,80m dan kuat dalam duel udara. Keunggulan fisik ini penting untuk meredam ancaman bola-bola silang. Namun koordinasi lini belakang Juve akan diuji menghadapi serangan cepat Milan. Tudor menuntut lini belakangnya bermain tinggi saat menekan, sehingga perlu waspada terhadap kecepatan winger lawan.

Secara keseluruhan, Juventus di bawah Tudor mencoba mengombinasikan intensitas tinggi ala modern dengan ketangguhan tradisional Juve. Mereka tampil lebih menghibur, namun konsekuensinya kadang lini belakang terbuka dan laga berakhir dengan banyak peluang (contohnya hasil 4-4 di sebuah laga yang sempat terjadi awal musim). Jika mampu menemukan keseimbangan, taktik Tudor bisa sangat berbahaya. Laga melawan Milan ini menjadi ujian apakah Juventus bisa menerapkan pressing dan dominasi mereka secara efektif melawan lawan sekelas Milan, atau justru harus bermain lebih sabar.

2. Taktik Massimiliano Allegri (AC Milan)
Di sisi lain, Massimiliano Allegri datang ke AC Milan dengan misi menjaga kedisiplinan dan mental juara. Gaya Allegri dikenal pragmatis, fleksibel, dan berorientasi hasil. Bersama skuad Milan musim ini, ia telah melakukan penyesuaian signifikan. Allegri menerapkan pendekatan midfield-centric – lini tengah menjadi kunci permainan Milan. Musim ini Milan sering tampil dengan formasi 5-4-1 saat bertahan atau 4-2-4 saat menyerang dengan Rabbiot dan Modric menjaga garis pertahanan, dan Fofana di belakang striker. Saat menyerang, Rabbiot dan Modric fokusnya memastikan pertahanan kokoh dan transisi mulus ke lini serang. Allegri menginginkan keseimbangan: buktinya, dalam kemenangan beruntun mereka banyak menang dengan skor tipis (1-0, 2-0) sambil menjaga gawang bersih. Baru saat melawan Napoli, mereka kebobolan lagi – itupun dalam kondisi bermain 10 orang dan penalti.

Pertahanan Milan di bawah Allegri menjadi lebih rapat dan terorganisir. Duet bek tengah Tomori-Gabbia-Pavlović cukup solid. Yang jelas, skema apapun yang dipilih, prinsip Allegri sama: tutup ruang antar lini, paksa lawan melebar, dan lakukan serangan balik terukur. Milan asuhannya telah menunjukkan bisa grind out kemenangan – menang sekalipun tertekan – seperti saat menaklukkan Napoli 2-1 dengan 10 pemain.

“Menang dengan cara menderita” adalah hal yang tak asing bagi Allegri, dan mental itu mulai menular ke skuad Milan musim ini.

Di sektor ofensif, meski Allegri terkenal konservatif, Milan musim ini cukup produktif dengan 11 gol dalam 5 laga liga. Kuncinya adalah efektivitas. Allegri memaksimalkan talenta kreatif seperti Saelemaekers, Gimenez, Leão dan Pulisic di sepertiga akhir. Pola serangan Milan sering melibatkan umpan-umpan direct ke depan dengan cepat begitu merebut bola. Christian Pulisic menjadi pusat kreativitas – visi dan kecepatannya dimanfaatkan sebagai pemberi assist maupun penyelesaian peluang. Kombinasinya dengan Gimenez memberikan dimensi serangan dari kedua flank. Selain itu, Allegri tampak menghidupkan kembali peran Alexis Saelemaekers, pemain sayap yang ia percayai untuk bekerja keras membantu serangan dan bertahan. Saelemaekers bahkan mencetak gol pembuka ke gawang Napoli memanfaatkan assist Pulisic. Ini menunjukkan Allegri tidak anti-serangan, dia justru cerdik memanfaatkan momentum di awal untuk mencetak gol, lalu mengunci keunggulan dengan pertahanan berlapis.

Strategi Allegri lainnya adalah memanfaatkan pengalaman pemain veteran di momen penting. Sosok Luka Modrić telah dimainkan sebagai metronom untuk menenangkan tempo saat tim unggul. Demikian pula, Allegri piawai mengatur game management – tahu kapan harus menumpuk pemain di belakang dan kapan mencari gol tambahan. Pola 5-4-1 saat bertahan lalu berubah jadi 4-3-3 / 4-2-4 saat menyerang kerap terlihat. Contohnya, saat bertahan melawan Napoli, Pulisic turun membantu gelandang menjadi 4-4-1 setelah tim kehilangan satu pemain (Estupiñán kena kartu merah). Fleksibilitas ini membuat Milan sulit ditebak.

Secara keseluruhan, Milan ala Allegri menonjol dalam disiplin taktik dan efektivitas. Mereka mungkin tidak akan bermain terlalu terbuka di Turin. Kemungkinan Allegri akan meramu strategi catenaccio modern – solid bertahan, menunggu Juventus melakukan kesalahan, lalu melancarkan serangan balik cepat via Leão dan Pulisic. Dengan pengetahuan mendalam Allegri tentang banyak pemain Juve (bekas anak asuhnya), taktik Milan bisa sangat spesifik menarget kelemahan individu lawan. Duel taktik Allegri vs Tudor ini menjadi daya tarik tersendiri: Allegri si pragmatis berpengalaman menghadapi Tudor yang masih relatif baru di laga besar sebagai pelatih kepala.

Peluang dan Prediksi Hasil Laga

Melihat performa dan kondisi kedua tim, laga Juventus vs AC Milan kali ini diprediksi berlangsung ketat dan taktis. Peluang Juventus untuk menang akan bergantung pada kemampuan mereka menembus pertahanan Milan yang terorganisir. Bermain di kandang sendiri, Juve pasti termotivasi – dukungan tifosi dan rasa ingin membuktikan diri di hadapan Allegri bisa menjadi energi ekstra. Jika Vlahović mendapat suplai bola matang dan lini kedua Juve (Koopmeiners, McKennie, Yildiz) mampu memaksa lini belakang Milan melakukan kesalahan, Juventus berpeluang mencuri kemenangan tipis. Kekuatan bola mati Juventus juga bisa jadi penentu, mengingat absennya Tomori dan Estupiñán mungkin melemahkan koordinasi pertahanan Milan.

Di sisi lain, peluang AC Milan untuk menang juga tidak kecil. Tim tamu sedang dalam tren positif dan penuh percaya diri. Allegri sangat mengenal atmosfer Allianz Stadium dan karakternya cenderung mampu meredam tekanan laga besar. Milan berpotensi menang jika berhasil mencetak gol terlebih dahulu dan memaksakan tempo sesuai kehendak mereka. Serangan balik Milan yang cepat bisa mengeksploitasi area yang ditinggal bek sayap Juve saat naik membantu serangan. Selain itu, Milan memiliki Christian Pulisic dalam form terbaik – kreativitasnya bisa menjadi pembeda jika laga buntu, apalagi menghadapi pertahanan Juventus yang kehilangan beberapa pilar. Ketangguhan Maignan di bawah gawang juga memberi Milan kepercayaan diri menghadapi kemungkinan gempuran Juve.

Secara taktik, laga ini berpotensi menjadi pertarungan catur yang hati-hati di awal. Juventus mungkin mengambil inisiatif serangan sejak awal untuk menggebrak, namun Milan akan berusaha mengontrol ritme dan menurunkan tempo dengan penguasaan bola sabar. Kunci bagi Juventus adalah mencetak gol lebih dulu – kalau tidak, mereka bisa frustrasi dan justru terbuka diserang balik. Sebaliknya bagi Milan, menahan gempuran awal dan memanfaatkan celah di pertengahan laga bisa memberi hasil positif.

“Beri kekalahan pertama untuk Juventus, Alle!”

——————————————

Opini pribadi penulis (dimassigi)
Boleh tidak sependapat, tapi harus satu bendera.

Tentang penulis:
Cinta pertama datang dari tandukan Oliver Bierhoff.
Tidak punya alasan, tapi mengidolai AC Milan dengan pasang surutnya
Padahal di saku celana banyak alasan untuk berpindah.

Salam Milanisti!

Facebook
Twitter
LinkedIn

BACA JUGA

PERNYATAAN RESMI MILANISTI INDONESIA: PEMBERHENTIAN PENGURUS

8th October 2026

Merujuk pada Surat Keputusan Presiden Milanisti Indonesia Nomor 001/VIII/SK/2026, dengan ini kami...

Lazio vs AC Milan, Ujian Konsistensi di Olimpico

15th March 2026

Laga ke-29 Serie A musim 2025/2026 menjadi penentu krusial dalam perburuan Scudetto....

BACA JUGA

PERNYATAAN RESMI MILANISTI INDONESIA: PEMBERHENTIAN PENGURUS

8th October 2026

Merujuk pada Surat Keputusan Presiden Milanisti Indonesia Nomor 001/VIII/SK/2026, dengan ini kami...

Lazio vs AC Milan, Ujian Konsistensi di Olimpico

15th March 2026

Laga ke-29 Serie A musim 2025/2026 menjadi penentu krusial dalam perburuan Scudetto....

Anatomi Derby della Madonnina: Laga ‘Hidup-Mati’ Rossoneri

8th March 2026

Di bawah gemerlap lampu San Siro pada Senin (9/3/2026) dini hari WIB,...

Melankolia San Siro dan Pragmatisme Allegri: Milan Meniti Buih di Antara Lelah dan Ambisi

18th January 2026

Ada semacam keheningan yang spesifik di San Siro ketika musim dingin memasuki...

Milan vs Verona: “Laga Mudah” yang Sering Jadi Rumit

25th December 2025

AC Milan kembali bermain pada Minggu di pekan ke-16 Serie A dengan...

Misi Pertahankan Piala Chiki, Milan Harus Bermain Tanpa Ampun!

18th December 2025

AC Milan akan menghadapi Napoli di semifinal Supercoppa Italiana 2025/26 yang digelar...

© 2003-2022, Milanisti Indonesia

© 2003-2022, Milanisti Indonesia