MILANISTI INDONESIA

Berita

Teka‑teki Akhir September: Kala Mesin Gol Duel dengan Tembok Kokoh Allegri, Siapa Kuat?

Dua tim dengan form sempurna di pekan-pekan September akan saling berhadapan. San Siro akan menjadi panggung duel panas antara AC Milan dan SSC Napoli (kick off 28/9 pukul 01.45 WIB). Milan, tim yang belum kebobolan dalam 4 laga terakhir, mencoba menghentikan start sempurna juara bertahan. Napoli datang dengan kepercayaan diri setelah menyapu bersih empat laga Serie A dan mencetak gol paling banyak di liga (bersama Atalanta). Milan sedikit diuntungkan dengan absennya bek kunci Napoli Alessandro Buongiorno akibat cedera saat melawan Pisa, sedangkan Leao sudah kembali berlatih normal dengan grup. Dengan latar inilah duel dua kandidat juara Serie A 2025/26 diprediksi berlangsung ketat dan penuh drama.

Setelah kekalahan di laga pembuka, Milan merespons cepat dengan permainan padu. Menurut Capello, yang paling mengejutkan adalah performa instan Rabiot, dan bagaimana harmoni bermainnya dengan Modrić yang memberi ketenangan di lini tengah, rajin melakukan intersep, dan memberi umpan terobosan. Peran Pulisic, Fofana dan Loftus‑Cheek juga menunjukkan pressing agresif dan finishing. Artinya, tugas mencetak gol bisa datang dari lini mana saja

Tim Antonio Conte juga tidak kalah taktis. De Bruyne langsung menjadi kreator di lini tengah (dengan gol dan assist-nya), sementara McTominay tetap menjadi motor box‑to‑box. Højlund, Spinazzola dan pemain muda seperti Gilmour dan Lucca memberi alternatif serangan.

“Allegri telah memenangkan lebih banyak gelar liga daripada siapapun di Serie A saat ini. Sementara Conte, bahkan berhasil memenangkan Premier League. Saya selalu diajari bahwa pemain terbaiklah yang menang. Kekuatan mereka? Keduanya memiliki ide-ide yang jelas. Baik Conte maupun Allegri selalu memegang kendali atas tim mereka, mereka juga tidak terpaku pada formasi tetap,” ujar Capello.

Prediksi jalannya pertandingan: Comeback Leao, dan match-mode Winner Pulisic

Milan cenderung memainkan pressing agresif pada awal laga, memanfaatkan kecepatan Pulisic, fleksibilitas Fofana dan Leão (jika dimainkan) untuk membongkar lini belakang Napoli. Allegri sering beralih dari 4‑3‑3 ke 3‑5‑2 dalam fase bertahan. Modrić dan Saelemaekers akan menjadi penghubung, memainkan umpan diagonal kepada Pulisic dan Leão. Skema itu membuktikan gol Fofana, yang lahir dari skema pressing intensif dan juga ketajaman Pulisic (terakhir terlihat dalam laga melawan Udinese dan Lecce),

Sementara itu, Conte biasanya menginstruksikan Napoli memainkan penguasaan bola dengan pola 3‑4‑2‑1: McTominay menekan dari lini tengah, De Bruyne mengatur tempo dan memanfaatkan long pass ke sayap melalui Spinazzola atau Politano. Tanpa Buongiorno, kemungkinan lini tiga bek Napoli berubah: Sam Beukema ditemani Giovanni Di Lorenzo dan Leonardo Spinazzola, atau Conte menurunkan Juan Jesus untuk memberi pengalaman.

Mereka akan mencoba menekan Milan sejak menit awal seperti saat melawan Sassuolo, memanfaatkan keunggulan stamina. Gelandang bertahan Anguissa bersama Gilmour atau McTominay akan memotong aliran bola Milan. Spinazzola yang sedang dalam performa baik (satu gol dan satu assist dalam dua laga terakhir) akan menjadi alternatif serangan di kiri.

Conte terkadang menggunakan pressing tinggi untuk meminimalisir kiper lawan menguasai bola. Jika Leão benar‑benar bugar, Milan bisa memasang trio Fofana–Modrić–Rabiot dengan Leão dan Pulisic di depan. Di kubu Napoli, tanpa Buongiorno, ini membuka peluang bagi Milan untuk mengeksploitasi komunikasi lini belakang.

Peluang dan tantangan Milan untuk memanfaatkan absennya Buongiorno

Absennya Buongiorno menghilangkan bek terkuat Napoli. Buongiorno adalah pengumpan jitu yang memberi assist untuk gol penentu Anguissa melawan Cagliari dan biasanya menjaga keseimbangan tiga bek. Tanpa dia, Beukema–Di Lorenzo–Spinazzola bisa rapuh menghadapi kecepatan Pulisic dan Leão. Selain itu, Milan dalam tren positif – menorehkan empat clean sheet dan Pulisic berada dalam bentuk luar biasa. Umpan‑umpan Modrić dan kembalinya Leão dapat memaksa Napoli bertahan lebih dalam.

Namun bukan berarti mudah, Napoli tetap tim dengan materi pemain lebih dalam. De Bruyne, Politano, Højlund dan McTominay sedang on fire, dan Conte ahli mengatur strategi partai besar. Milan harus memutus suplai bola De Bruyne dan mencegah Spinazzola mendapat ruang. Napoli juga punya sedikit keuntungan dengan intensitas jadwal Milan (baru saja bermain di Coppa Italia) yang bisa mempengaruhi kebugaran.

Allegri harus putus rekor buruk vs Conte

Secara head-to-head sebagai pelatih, Antonio Conte unggul telak atas Massimiliano Allegri: dari 8 pertemuan resmi, catatannya Conte 5 menang, 2 imbang, 1 kalah. Kemenangan Allegri terjadi saat menahkodai Cagliari. Selanjutnya, pertemuan mereka terjadi pada era Juventus-nya Conte vs Milan-nya Allegri (2011–2014), periode ketika Juve kembali dominan dan Conte memenangi tiga scudetto beruntun. Salah satu momen paling diingat adalah duel musim 2011/12 dengan gol Muntari yang tidak disahkan (Milan 1-1 Juve), momentum yang ikut mengayun perebutan gelar ke arah Juve.

“Sudah waktunya putus rekor itu, Alle!”

——————————————

Opini pribadi penulis (dimassigi)
Boleh tidak sependapat, tapi harus satu bendera.

Tentang penulis:
Cinta pertama datang dari tandukan Oliver Bierhoff.
Tidak punya alasan, tapi mengidolai AC Milan dengan pasang surutnya
Padahal di saku celana banyak alasan untuk berpindah.

Salam Milanisti!

Facebook
Twitter
LinkedIn

BACA JUGA

PERNYATAAN RESMI MILANISTI INDONESIA: PEMBERHENTIAN PENGURUS

8th October 2026

Merujuk pada Surat Keputusan Presiden Milanisti Indonesia Nomor 001/VIII/SK/2026, dengan ini kami...

Lazio vs AC Milan, Ujian Konsistensi di Olimpico

15th March 2026

Laga ke-29 Serie A musim 2025/2026 menjadi penentu krusial dalam perburuan Scudetto....

BACA JUGA

PERNYATAAN RESMI MILANISTI INDONESIA: PEMBERHENTIAN PENGURUS

8th October 2026

Merujuk pada Surat Keputusan Presiden Milanisti Indonesia Nomor 001/VIII/SK/2026, dengan ini kami...

Lazio vs AC Milan, Ujian Konsistensi di Olimpico

15th March 2026

Laga ke-29 Serie A musim 2025/2026 menjadi penentu krusial dalam perburuan Scudetto....

Anatomi Derby della Madonnina: Laga ‘Hidup-Mati’ Rossoneri

8th March 2026

Di bawah gemerlap lampu San Siro pada Senin (9/3/2026) dini hari WIB,...

Melankolia San Siro dan Pragmatisme Allegri: Milan Meniti Buih di Antara Lelah dan Ambisi

18th January 2026

Ada semacam keheningan yang spesifik di San Siro ketika musim dingin memasuki...

Milan vs Verona: “Laga Mudah” yang Sering Jadi Rumit

25th December 2025

AC Milan kembali bermain pada Minggu di pekan ke-16 Serie A dengan...

Misi Pertahankan Piala Chiki, Milan Harus Bermain Tanpa Ampun!

18th December 2025

AC Milan akan menghadapi Napoli di semifinal Supercoppa Italiana 2025/26 yang digelar...

© 2003-2022, Milanisti Indonesia

© 2003-2022, Milanisti Indonesia